Dalam rangka menyemarakkan momen jelang Ramadhan sebagai syahrul Quran,
Masjid Ar-Ridho Komplek Pajak Jurangmangu Timur (dekat dengan Rumah Quran
akhwat) bekerjasama dengan IKADI (Ikatan Da’i Indonesia, Tangerang Selatan) menyelenggarakan
tarhib Ramadhan berformat mabit dan qiyamul lail.
Diawali dengan tasmi’ Quran, kajian taujih Rabbani menjadi agenda utama mabit dengan tema "Al-Quran-Sumber Kemenangan Dakwah". Sebuah tema yang sangat cocok menjadi
bekal da’i pada umumnya, terkhusus manajemen Rumah Quran dan santri dengan
segenap ikhtiar interaksinya dengan Al-Quran. Mari kita simak reportase yang disampaikan Ustadz Syaiful Bahri, berikut ini:
Al-Quran turun di bulan Ramadhan, di malam
yang penuh kemuliaan. Sedikitnya ada 3 kemuliaan:
- kemuliaan Ramadhan (bulan penuh keberkahan),
- kemuliaan malam Qadr (lebih baik daripada seribu bulan), dan
- kemuliaan Al-Quran itu sendiri (mukjizat terbesa, petunjuk bagi umat manusia)
Sembilan kali sudah, Ramadhan dialami Rasulullah
Saw sejak pensyariatan shiyam
Ramadhan pada Tahun ke-2 Hijriyah. Dalam kesembilan kali itu, Rasulullah Saw
memiliki waktu khusus untuk ‘ngaji bareng’ malaikat Jibril (talaqqi atau memurajaah hafalannya).
Bisa kita
saksikan interaksi intens Rasulullah Saw terhadap Quran, termasuk perlunya validitas bacaan beliau
dicek di bulan Ramadhan. Berkaca dari situ, kita jadi bertanya-tanya, Mana yang lebih susah? Memenangkan Dakwah atau dekat dengan Quran?
Jawaban seharusnya adalah: dekat dengan Al-Quran lebih susah… Karena kemenangan dakwah hanya bisa diraih apabila subjeknya (da'i) dekat dengan Quran, sehingga dekat dengan Quran adalah ikhtiar kita yang sebenarnya syetan sangat getol ikut campur mengganggu kita.
Bayangkan dakwah dilakukan tanpa subjeknya (da’i) berinteraksi intens
terhadap Quran. Ini sama artinya mengkhianati Quran. Padahal da’i dituntut
mengisi dakwahnya dengan Qaalallahu ta’aalaa (firman Allah/ayat Quran). Coba
renungkan surat Ar-Rahman (55) ayat 1-3:
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah – Yang telah
mengajarkan Quran – Dia menciptakan manusia…”
Surat tersebut mendahulukan diajarkannya
Quran daripada diciptakannya manusia. Nikmat terbesar bukan diawali dengan
diciptakannya manusia sebagai makhluk paripurna. Nikmat terbesar justru bila
seorang manusia diajarkan Allah (secara tidak langsung) untuk selalu dekat
dengan Al-Quran.
Karena dengan Quran, Allah meninggikan
suatu kaum (yakni
muslim). Dengan Quran pula, Allah merendahkan kaum yang lain (yakni kafir). Semoga kita termasuk
yang ditinggikan Allah dengan Quran, yakni dengan cara kita dekatkan diri
untuk: baca, pahami, praktekkan, dakwahkan, dan hafalkan Quran (5 interaksi
umum dengan Quran).
Dalam konteks memenangkan dakwah, seorang da’i
harus menguatkan diri bersama Quran. Berikut 3 alasan kenapa kita harus
menguatkan diri bersama Quran: yakni dari sisi dalil naqli, dari sisi bukti-bukti
yang sudah terjadi, dan dari sisi dalil aqli (logika).
Bersambung ke Bagian 2 - Alasan Bersama Quran berdasar Dalil Naqli
Allahummarhamnaa bil Qur'aan...
Allahummaj'alnaa min ahlul Qur'aan...
Sumber:
- Catatan peserta mabit
- an-najah.net (gambar)
Beranda
Home
Posting Komentar