Sebuah kisah dari pengalaman nyata...
Andai isi kepala semua pengendara
motor ibukota dikumpulkan, mungkin hasilnya akan muncul kata sepakat; “ketidakbermanfaatan”
alias “kesia-siaan”. Ya, begitulah. Mengendara banyak dianggap sebagai kegiatan
masa bodoh sia-sia belaka, yang penting sampai tujuan.
Buktinya nyata, banyak motor
salip-menyalip tanpa etika, kebut-mengebut menerobos rerambu bila tiada polisi
yang jaga, asal belok tanpa perhatikan perasaan pengendara di dekatnya. Belum
lagi suara gas keras-keras dibisingkan, knalpot tinggi-tinggi semprot muka
pengemudi belakang, manuver kanan kiri membuat was-was semua pengguna jalan.
Pergerakan yang gesit dan ukuran tubuh
yang relatif langsing membuat sepeda motor sering dikambinghitamkan bila ada kejadian
di jalan. Sempurna sudah! Lalu lintas ibarat arena kedzaliman instan dimana
para pengendara sepeda motor-nya berpikir praktis, “Kalau saya bisa sebentar di
jalan dengan mengebut, kenapa harus berlama-lama dengan pelan-pelan?”
Pemikiran duniawi para pengendara
sepeda motor memang perlu diluruskan. Paling tidak, sudut pandang ketuhanan perlu
lebih dulu di-shibghah-kan. Inilah
pengalamanku sebagai mantan-biker bengal jalanan yang suka berangkat ke kantor dengan
durasi mepet waktu, berakibat pada kedzaliman instan tak tertahankan.
Pada prinsipnya, sebanyak dua jam tiap
hari perlu kualokasikan untuk perjalanan berangkat dan pulang kantor. Berangkat
dari Bintaro ke Jakarta, pulang pergi dengan rincian 14 km dikali 2. Awalnya
diriku merasa nyaman, namun lama-lama ada yang mengganjal. Lamat-lamat aku sadar
betapa mudahnya kedzaliman instan tertuai selama berkendara. Hanya dengan
mengegas, mengerem, atau meliukkan motor saja, rasa-rasanya malaikat dengan
mudahnya meliuk-liukkan pena, mencatat segala amal. Galau hati ini rasanya.
Muhasabah itu memaksaku berpikir
keras, apa yang harus kulakukan agar beroleh perjalanan yang berkah dan
berpahala? Tinggal kos dekat kantor bukan solusi cerdas, lingkungan penuh keakraban
di Bintaro sudah harga mati. Naik bus dan KRL juga bukan solusi jitu. Perlunya
berulang kali pindah angkutan dengan resiko terlambat, jelas menjadi hambatan.
Ternyata solusinya justru kutemukan di dalam Al-Quran.
“(yaitu)
orang-orang yan beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS Ar
Ra’du: 28).”
“Hai
orang-orang yang beriman! Ingatah kepada Allah, dengan mengingat nama-Nya,
sebanyak-banyaknya (QS Al Ahzab: 41).”
Dari dua ayat ini, solusi praktisnya adalah
mengingat Allah sebanyak-banyaknya sepanjang jalan. Indikasinya adalah hati
menjadi tenteram, harapannya adalah kedzaliman instan menjadi berkurang, kalau
perlu jauh-jauhlah ia pergi menghilang. Tanpa perlu syetan rajin melakukan bisikan.
Awal mula memperoleh ide dzikir,
praktiknya sulit minta ampun. Dengan menjadwal dzikir tiap harinya (entah
shalawat, tasbih, tahlil, atau istighfar pada hari-hari tertentu), ternyata
lebih sering lisan ini teralihkan oleh fokus macet di jalan. Mungkin karena
lafadznya berulang terus dan tak membiasakan otak untuk berpikir keras.
Apalagi, evaluasi jumlahnya sulit terkontrol.
Setelah memutar otak lagi, aku temukan
lafadz yang masih tercakup dalam dzikir, mudah dievaluasi, namun sanggup
memaksa otak untuk aktif berpikir. Dialah yang selama tahun-tahun selanjutnya
kugencarkan terus menerus. Dia yang makin memutqinkan hafalan, menemaniku
sepanjang perjalanan. Dialah teman tiada sedih dan gusar. Dialah murajaah
Quran.
Pada awalnya ia sulit dilakukan.
Hafalan lama kurang mutqin, oleh karena itu perlu sering-sering membaca dahulu agar
mutqinnya kembali. Dan ternyata, makin ke depan makin ringan. Kendala kian
berkurang, diri ini makin tertantang. Tidak lain karena standar evaluasinya
jelas. Bintaro sampai kantorku di Jakarta berjarak rerata 1/2 juz, itu sudah dikurangi estimasi macet di
jalan dan juga macet hafalan. Otomatis, kalau punya hafalan hanya 3 juz, tiga
hari saja sudah kembali dimurajaah lagi. Masya-Allah. Tentu hafalan tiga juz diulang
terus-menerus akan cukup membosankan bukan? Solusinya adalah menambah hafalan.
Akhirnya tergerak untuk menghafal. Disinilah aku merasa butuh sekali yang
namanya; menambah hafalan. Disinilah menambah hafalan menjadi kebutuhan…
Lalu, bagaimana implikasi di jalan?
Masya-Allah, mengendara menjadi ringan. Bila semua orang berpikir bahwa naik
motor kurang bermanfaat sehingga harus cepat-cepat, maka pemurajaah kendaraan akan
berpikir, “Inilah kegiatanku yang bermanfaat, jadi untuk apa cepat-cepat?
Nikmati saja!” Atau pas juga dengan logika, “Quran membawa ketenangan bagi
pembacanya. Dengan lingkungan yang mudah mendzalimi orang, hati yang tenang
akan sulit melakukan kedzaliman.”
Beruntunglah para pengendara motor
yang punya hafalan, yang terus menerus menambah hafalan, dan juga senantiasa
rajin memurajaahi hafalannya sepanjang jalan. Siapa tahu perjalanan itu dianjut
sampai ke surga-Nya kelak. Aamiin…
(sekelumit pengalaman nyata pencari
nafkah Jakarta)…
Sumber:
narasi kisah: salah satu donatur RQ STAN
gambar: bersamadakwah.net
Beranda
Home
Posting Komentar