Sudah banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika kita
menjadi penghafal Quran, mulai dari Quran sebagai pemberi syafaat di hari akhir
(HR Muslim) bagi siapa yang membaca, memahami, dan mengamalkan isinya, menjadi
hujjah/pembela serta pelindung dari siksa neraka (HR Muslim), bahkan termasuk
dalam kategori Ahlullah/keluarga Allah (HR Ahmad). Mungkin, secara logika dunia,
keuntungan-keuntungan tersebut tak mampu dijangkau mata. Namun, jika kita
bicara logika akhirat, maka sungguh cukuplah Allah sebagai Pembalas segala amal
kebaikan kita.
Kalau secuil keuntungan di atas dapat selalu kita korelasikan
dalam konteks zaman dahulu dan sekarang (universal), maka jika kita merunut
pada zaman sekarang saja, maka sungguh yang kita dapatkan dari aktivitas penghafal
Quran tak lain adalah keistimewaan. Apa
maksudnya ini?
Tak bisa dipungkiri, zaman sekarang teknologi terus maju, jarak
seolah kian menyempit, waktu seolah dapat dihemat, salah satu imbasnya
persoalan makin meluas. Yang harusnya tak ada ‘satu’ masalah, karena saking
banyak dan multidimensinya urusan manusia (pun saking banyaknya manusianya),
maka masalah jadi ada. Muncul berbagai persoalan yang menimbulkan kesedihan,
kesulitan, kemacetan, tunggu-tungguan yang secara otomatis mengganggu waktu
prioritas kita.
Jika para pebisnis merasa bahwa waktu adalah uang, maka
seorang Ibnu Abi Hamzah menjelaskan
dalam Bahjatun Nufus-nya bahwa waktu
ibarat pedang yang maknanya; kita dianjurkan untuk memotong waktu dengan amal
perbuatan (baik) agar tidak terpenggal oleh kebiasaan menunda-nunda amalan.
Kenapa menunda? Boleh jadi karena masalah, kesedihan, kegalauan, kesulitan,
kemacetan, dan sebagainya.
Hal ini memunculkan 2 pertanyaan: bagaimana mengatasi
berbagai persoalan kekinian itu? Lalu, bagaimana mengalihkan persoalan justru
menjadi amal perbuatan (baik)? Jawaban singkatnya, yakni mendekat kepada Al
Quran.
Kita bisa jawab pertanyaan pertama dengan memahami makna ‘zaadat
hum iimaanaa’ (QS Al Anfal:2) bahwa ayat-ayat-Nya menguatkan iman kita, pun Al
Quran sebagai penawar dan rahmat (Al Isra:82), dan juga hati kita bisa menjadi tentram
karena mengingat Allah (Ar Ra’du:28). Maka, untuk mengatasi pertanyaan kedua
adalah solusi teknis dari jawaban pertama. Bagaimana mengalihkan persoalan
menjadi amal perbuatan baik? Kita sempatkan saja menghafal atau memurajaah
Quran.
Singkatnya, kita perlu mendekat kepada Quran. Dengan solusi
terperinci terbagi menjadi dua titik poin. Pertama,
Jika yang kita dapati adalah sebuah
masalah yang perlu fokus utama diri kita mengatasinya, maka kita bisa fokus
pula dalam mendekat kepada Quran. Baik itu kembali membaca Quran (menyempatkan
diri dari kesibukan kita), mengingat ayat-ayat penuh motivasi, mentadaburi,
memahami tafsir, merenungi ayat-ayatnya, hingga mendengar kajian yang menukil
ayat-ayat Quran.
Nah untuk yang kedua, disinilah letak keistimewaan para
penghafal Quran dari mereka-mereka yang sekedar mendekat kepada AlQuran. Jika kita dapati sebuah masalah yang sulit menemukan
fokus, seperti menunggu (tak bisa dipungkiri hal ini sulit bagi sebagian
orang), macet di tengah jalan, stres, pokoknya tak tersedia Quran dalam
sekejap, maka para penghafal Quran bisa langsung mengambil memorinya untuk
mengingatkan diri sendiri, merenungi, mengisi waktu luang (selagi macet di
jalan misalnya). Dan disinilah (salah satu) keistimewaan dan letak perbedaan kemampuan ‘mengatasi masalah’ oleh
sosok penghafal Quran dibanding dengan bukan penghafal Quran.
by : Nur Syamsudin
Beranda
Home
Posting Komentar