Penulis saat itu terdiam. Beliau begitu lincah menggoyangkan
tangannya memparaf dokumen. “Walau kita punya kewajiban ngantor...”, lanjut
Bapak itu. “Walau kita faham akan makna ‘kuntum
khaira ummatin ukhrijat linnaasi.. bahwa orang terbaik itu adalah yang
bergerak di jalur dakwah...’
“Kenapa harus menyempatkan diri untuk lari pagi sejak semuda
kamu?”, Bapak itu kini menatap penulis.
Bapak itu memungkasi pembicaraan dengan bertutur lembut, “Karena
kita bekerja untuk umat, maka kita harus sehat selama mendampingi umat! Kita
tak boleh tergerus oleh kesibukan apapun yang membuat kita lalai dari menjaga kesehatan,
yang akhirnya pekerjaan kita ‘untuk umat’ jadi terbengkalai karena harus
berperang dengan penyakit.”
***
Pembicaraan imajiner di atas diplintir dari pembicaraan yang
nyaris nyata dialami penulis. Secuil hikmah dapat kita ambil dan kita
kolaborasikan dengan hadits berikut: Sebaik-baik
manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek
manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad,
At-Tirmidzi). Maka, kalau mau panjang umurnya, kita sehatkan saja diri
kita. Bukan hanya dengan kepercayaan dan mind-set semata, pun di luar pandangan
tentang garis takdir Allah tentang ‘maut’, melainkan juga dengan ikhtiar untuk
sehat. Go run... Itu salah satu contoh saja. #Toh, kita tak tahu dimana dan
kapan ruh kita dicabut!
Nah, pembicaraan yang nyaris sama terjadi lagi beberapa
waktu belakangan. Tak lain imbas dari silaturrahim pasca-lebaran (walau memang
silaturrahim tak harus dilakukan pasca-lebaran, melainkan setiap saat). Namun,
tak bisa dipaksa kalau inspirasi sudah masuk menggebrak pikiran.
Kenapa harus untuk umat? Semua alasan atas pertanyaan ini bisa
dirangkum dalam tetangga dari ayat ‘kuntum khaira
ummatin’ tadi (Ali Imran 110), yakni surat Ali Imran 104 berikut: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Hadits sekitar tema ayat ini sangat banyak
dan menjelaskan tentang seberapa beruntungnya golongan ini, yakni golongan yang
bekerja untuk umat (menyelamatkan mereka dari lembah kenistaan), berjuang secara langsung
atau tidak langsung dalam berdakwah.
Pembicaraan ‘untuk umat’ kali ini boleh dibilang lahir dari kegalauan
seorang pemakmur masjid kampus STAN. Bayangkan, yang biasanya setiap tahun ada
generasi pembaharu (ruhul jadid) dari penerimaan anak STAN, kini anak STAN
terjeda dua generasi, plus satu generasi terakhir yang terkatung-katung hendak hengkang
imbas dari kelulusan. Akibatnya dua generasi kosong, kemudian satu generasi mau
masuk, pun kalau toh jadi masuk, generasi kakak kelas terakhirnya sudah
hengkang. Gampangnya, sang pemakmur masjid berpikir keras, ‘siapa pemakmur utama
masjid ini kelak?’
Secara sederhana, pemakmur masjid adalah mereka yang shalat
fardhu di masjid itu (Masjid Baitul Maal -sebut merek juga akhirnya). Dalam hal
ini, yang dipermasalahkan adalah pemakmur masjid utama, yakni imam rawatib,
imam yang setiap hari lima kali mengimami masjid (baik si imam terus, atau
bergantian). Siapakah yang akan menjadi imam rawatib di MBM kalau generasi
terakhir sudah didepak dari kampus dan ditempatkan nanti? -itu pertanyaan
intinya.
“Coba bayangkan! Kalau kemampuan membaca Quran-nya tidak bagus,
lalu menjadi imam. Kasihan dunk para jamaah! Makanya, akhi!”, Bapak pemakmur
masjid itu mulai memberi saran -lebih kepada menasehati kami para manajemen
Rumah Quran.
“Makanya, akhi... Kalau bisa Rumah Quran dipindah ke sini
saja deh! Menjadi pengurus masjid ini. Di belakang masjid ini ada 4 kamar
masing2 bisa 3 orang. Toh mereka bisa langsung bermanfaat untuk umat. Menjadi
imam rawatib di masjid, tentunya sambil menghafal Quran dan memurajaah hafalan.”
Penulis yang juga bagian kecil dari manajemen Rumah Quran STAN
langsung menyitir memorinya, “Waduh, lha wong kita manajemen sudah membikin
kontrak baru setahun ke depan dengan pemilik rumah yang lama? Waduh, gimana ya?”
Tak dapat dicegah, inspirasi datang, tentunya masih belum
logis, “Hm... Bagaimana kalau Rumah Quran tambah satu lagi?”, ujar suara
inspirasi itu. “Yakni mereka-mereka yang berani langsung bermanfaat untuk umat.
Menjadi pengurus rumah tangga masjid ini, menjadi imam masjid, menghafal Quran,
memurajaah hafalan, dan pastinya menjadi mahasiswa STAN yang sholeh. Bagaimana?”
Kemudian muncul permasalahan, “Siapa musyrif/pembimbingnya?”
Suara inspirasi tak
mau kalah, “Mudah saja. Kita ajak saja pemakmur masjid tadi untuk menjadi
musyrif, menerima setoran hafalan. Toh, kita bisa membikin jadwal rekonsiliasi alias
mutabaah bulanan menyatukan fikrah ketiga Rumah Quran (Ruqun Ikhwan, Ruqun
Akhwat, dan Ruqun Masjid Baitul Maal), tentunya selain mutabaah yang dilakukan
oleh Ustad Fadhlil Ustman selama ini. Kita bisa lebih intens berjuang untuk
Quran. Kita bisa sharing-kan ketiga Rumah Quran. Kalau perlu, kita bisa tukar santri,
sehingga yang di Ruqun Ikhwan bisa gantian menjadi imam di Ruqun Masjid Baitul
Maal. Ayolah, ini lebih menguntungkan!”
Terakhir, kita dapat pertanyaan pamungkas, “Tiga Rumah
Quran? Darimana biaya mengelolanya?”
Suara inspirasi pun terbahak-bahak, lantas bertutur lembut, “Allah
Maha Kaya! Cukuplah itu menjadi keyakinan!”
Visi utamanya sudah jelas bahwa Rumah Quran akan menghasilkan
generasi Qurani ‘untuk umat’, yakni melalui alumni STAN yang akan disebarluaskan
ke seluruh Indonesia. Namun, dari pembicaraan tadi, secara sederhana, kita
temukan dua pilihan visi yang lebih detail. Apakah ‘untuk umat’ ini berarti
untuk umat masa depan? Ketika mereka ditempatkan di titik-titik krusial
instansi pasca lulus dari STAN? Ataukah untuk umat ini berarti bisa dimulai
dari sekarang? Ketika mereka mulai menghafal dan berinteraksi dengan Quran, pun
langsung bisa bermanfaat ‘untuk umat’?
Ini PR manajemen. Mohon doa dari pembaca, semoga Allah
memudahkan langkah-langkah kita. Juga langkah-langkah mereka yang berjuang untuk
umat, baik untuk sekarang, atau untuk masa depan.
by : Nur Syamsudin
Beranda
Home
+ komentar + 1 komentar
Sip Mas, lanjutkan...
Posting Komentar